Sudah sampai di sini, lalu mau kemana?

Pagi ini, alhamdulillah seperti biasanya, pagi memang tak cuma membuat udara menjadi adem, tapi juga hati dan pikiran pun adem. Pagi senantiasa menjadi saat yang paling enak untuk menikmati hari. Saat dimana semangat sedang di puncaknya 🙂

Begitu juga hari ini. Saat pagi tiba, banyak ide berkeliaran di kepala, tak sabar ingin segera dikeluarkan, dieksekusi, sebelum ia kemudian hilang menguap, terlupakan oleh aktivitas yang mulai padat merayap menuju siang.

Dengan berlalunya ramadhan… seolah menjadi momen tersendiri untuk melakukan introspeksi diri. Sudah seperti apakah diri ini? Lalu.. mau kemana? Apakah cukup begini-begini saja?

Tentu saja pertanyaan singkat itu membutuhkan jawaban yang panjang (sangat panjang mungkin).

Tidak semuanya perlu dishare.

Iya benar. Tidak semuanya perlu dishare dan diceritakan ke semua orang. Karena tidak semua orang membutuhkan itu, pun diri ini menjadi seolah menanggung beban untuk pembuktiannya pada orang lain. Untuk apa? Membuktikan itu pada diri sendiri saja.

Pun juga kalau kita salah bicara, sehingga salah diartikan oleh orang yang mendengar, bisa dianggap kita sombong atau pamer/riya kan?

Kembali lagi… kita melakukan ini untuk mencapai tujuan kita, untuk menyemangati kita agar senantiasa semangat berikhtiar mengerjakan apa-apa yang sudah direncanakan 🙂 Soal orang lain akan terinspirasi atau tidak, itu bonus. Bukan tujuan utama. Tujuan utamanya adalah untuk mengembangkan diri kita sendiri bukan?

Bercerita boleh, namun sebaiknya pada orang-orang yang kita sudah tahu karakternya. Seperti halnya soal mimpi. Jika kita bermimpi sesuatu, tidak disarankan untuk kita menceritakannya kepada sembarang orang, karena itu bisa menjadi semacam doa. Ceritakan mimpi kita pada orang yang sholeh, atau orang yang kita percaya baik dan mampu membantu kita memecahkan/memberi solusi/saran yang baik atas kegalauan akan mimpi yang telah kita alami.

Ok, balik ke awal.

Kita perlu tahu dimana posisi kita saat ini, mau kemana, dan bagaimana cara menuju kesana.

Tulis, tulis, tulis!

Menulis akan memudahkan kita mengingat dan melakukan evaluasi. Menulis bukan hal yang sulit, namun ia butuh konsekuensi dan konsistensi.

Tulis. Iya, tulis saja di media manapun yang memudahkan kita. Bisa di hp, bisa di buku catatan kecil, bisa di whiteboard yang ditempel di dinding rumah, dst.

Tulis juga rencana-rencananya, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Buat target terukur yang realistis dan jelas waktunya.

Selanjutnya, sering-sering melihat kembali target-target kita. Update mana yang sudah tercapai, mana yang belum, mana yang perlu direvisi, dll.

After all…. semoga ramadhan ini menjadi salah satu tonggak titik balik kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sukses, lebih manfaat. Aamiin aamiin yaa robbal alamiiin.

Oh iya, kalau selama ini ada kata-kata saya, tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan, mohon dimaafkan ya. Semoga menjadi introspeksi saya ke depan untuk memperbaiki diri. Salam ukhuwah 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: