Tradisi Lebaran Keluarga

Lebaran… rasanya campur aduk, antara sedih karena bulan mulia ramadhan telah berlalu, tak ada jaminan bahwa tahun depan kita akan melewatinya lagi (semoga Allah masih memberi kita semua kesempatan, aamiin), namun juga senang karena bertemu dengan sanak saudara. Lebaran kumpul keluarga besar.

 

H-1 Lebaran

Saat masih lajang dulu, tentu saja saya merayakan lebaran bersama kedua orangtua di kampung halaman. Di keluarga, yang merantau hanya saya dan adek/bungsu. Lebaran kami berusaha untuk bisa mudik ke kampung halaman, bertemu orangtua, keluarga. Minimal H-1 kami sudah sampai di rumah.

Di rumah, selain ada ayah, ibu, kakak, juga adek, juga ada nenek dari ibu yang tinggal serumah. Nenek termasuk orang yang dituakan/dihormati di kampung, meskipun secara usia memang usia nenek sepertinya yang paling tua di sana.

Sejak habis maghrib di hari terakhir ramadhan, biasanya di rumah sudah mulai ramai orang-orang yang datang hendak berzakat fitrah kepada nenek. Dan hal ini seringkali terus berlanjut hingga sebelum subuh di hari lebaran. Masyaallah… kalau diingat-ingat sekarang, takjub juga bisa begitu.

Di rumah, kami membantu nenek menerima tamu-tamu yang datang, dengan membantu membawa masuk beras fitrah yang ada, memberikan suguhan air minum kepada tamu, membukakan pintu, dll. Pokoknya kami bertugas untuk bagian yang hilir mudik. Namanya anak-anak, bukannya mengeluh, kami cucu-cucunya ini justru senang. Tahu sendiri kan anak-anak suka blingsatan gak bisa diam. Jadi momen ini jadi semacam panci ketemu tutupnya. Klop! 😀

Suasana rumah menjadi ramai, lampu ruangan terang benderang, ramai. Hal ini menjadi salah satu kenangan di kepala kami akan serunya lebaran 🙂 ❤

 

Hari H Lebaran

Hari lebaran kami awali dengan seluruh anggota keluarga sholat subuh berjamaah di masjid sebelah rumah. Setelah selesai, bisanya kami pulang ke rumah, kecuali ayah. Ayah masih di masjid bersama petugas takmir masjid, memastikan masjid siap melaksanakan sholat ied.

Kisaran 30 menit/1 jam sebelum sholat ied dilaksanakan, ayah pulang ke rumah untuk berganti pakaian yang lebih rapi/bagus untuk kemudian berangkat ke masjid bersama-sama sekeluarga.

Setelah sholat ied, kami pulang. Seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah dan bersalam-salaman saling meminta maaf, diawali meminta maaf kepada nenek, kedua orangtua, setelah itu ke kakak dan adek. Momen itu seolah biasa saja, sederhana, namun jauh menembus ke hati. Seringnya kami semua akan berlinangan air mata / minimal berkaca-kaca juga bersuara gemetar… masyaallah. Kami lanjutkan dengan sarapan bersama.

Biasanya keluarga kami tidak kemana-mana setelah sholat ied, karena banyak warga/tetangga sekitar yang akan datang ke rumah untuk saling meminta maaf.

 

Seharian itu kami akan stay di rumah, bahkan sampai hari ke 3 atau 4, karena saking banyaknya tamu yang datang. Disela-sela jeda itu, biasanya ayah dan ibu akan berkunjung ke rumah beberapa sahabat di sekitar rumah. Jika saat itu di rumah ada tamu datang, salah satu dari kami anak-anaknya akan mencari mereka dan menyampaikan kalau di rumah ada tamu, mereka biasanya akan bergegas pulang kembali 🙂

Waktu yang cukup lowong untuk bisa silaturahim ke rumah sanak saudara yang jaraknya lumayan, baru bisa dilakukan seminggu setelah lebaran.

 

Tahun 2001, meninggalnya nenek. Sejak saat itu lebaran di rumah tidak semeriah sebelumnya. Tamu-tamu yang datang tetap banyak, namun tidak sebanyak saat nenek masih hidup.

Iya, nenek orang yang paling dituakan di kampung, juga orang yang paling dituakan di keluarga besar. Sehingga bisa dibilang semua saudara/keluarga besar saat lebaran datang ke rumah kami, ke tempat saudara yang paling tua. Rumah kami menjadi tempat jujukan (bahasa jawa = tujuan). Kini setelah nenek tiada, tempat jujukan-nya berganti.

Pun setelah meninggalnya nenek, kalau biasanya kami baru bisa silaturahim berkunjung ke rumah-rumah saudara baru bisa dilakukan sekitaran seminggu setelah lebaran, menjadi berubah, lebaran+1 kami sudah bisa mengunjungi nenek di Gresik dan saudara-saudara lainnya. Namun keseruan itu berbeda… ada yang hilang.

 

Setelah menikah, dengan bertambahnya keluarga besar dari suami, momen lebaran menjadi lebih padat acara. Dengan jatah hari libur yang kurang lebih sama, kami harus membagi silaturahim ke 2 keluarga besar : keluarga besar saya, juga keluarga besar suami.

Untuk menjaga hati kedua orangtua kami semua, mana yang pertama kami kunjungi menjadi bergantian. Misalnya kalau tahun ini hari lebaran pertama ke pihak keluarga besar suami, maka tahun berikutnya hari lebaran pertama ke pihak keluarga besar saya.

 

Lebaran… semoga menambah kasih sayang dan mempererat silaturahim diantara keluarga besar kita semua. Aamiin yaa robbal alamiiin 🙂

 

 

3 respons untuk ‘Tradisi Lebaran Keluarga

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: