Berbuka Puasa Bersama Keluarga Itu Utama

Bulan ramadhan, selain bulan puasa dan bulan qur’an, bagi saya juga merupakan hari keluarga. Bagaimana tidak? Setiap bulan ramadhan senantiasa teringat kenangan dengan ayah dan ibu dulu 🙂 Kangen kepada mereka.

Meski mereka telah tiada, ayah meninggal tahun 2011, ibu meninggal tahun 2017 lalu, namun mereka menetap di hati dan doa saya, insyaallah. Semoga Allah menjaga mereka, menjauhkan dari siksa kubur, diterima amal ibadah dan diampuni kesalahannya. Aamiin yaa robbal alamiin.

Parents love

Bagaimana kita dididik, mempengaruhi cara kita mendidik anak

Ya benar, meski tidak 100% benar. Karena selain pengalaman kita dididik oleh orangtua, kita juga berusaha memperbaiki diri dengan membaca atau belajar pada mereka yang menurut kita berhasil mendidik anak-anak mereka. Berharap yang menurut kita kesalahan dalam pendidikan yang kita terima, bisa dihindari/diperbaiki untuk anak-anak kita 🙂

ibu madrasah pertama anak

Anak-anak saya saat ini berada dalam rentang usia yang sangat perlu bimbingan dan keteladanan dalam penanaman nilai-nilai kehidupan. Kehadiran dan dukungan saya (orangtua) dalam membersamai proses pembelajaran mereka sangat diperlukan.

Momen ramadhan ini sebisa mungkin dimanfaatkan dalam penanaman nilai-nilai tersebut.

Momen berbuka puasa merupakan salah satu momen istimewa yang bisa dimanfaatkan.
Dibandingkan sahur, saat buka puasa lebih menggoda iman 😀

Bagi saya :

  1. kegiatan ini sebisa mungkin, berusaha untuk dilakukan bersama mereka.
  2. Sebisa mungkin berusaha dilakukan di rumah.
  3. Sebisa mungkin berusaha menyiapkan makanan buka puasa bersama mereka.

Sebisa mungkin ya, tidak harus, tergantung situasi dan kondisinya juga bagaimana. Misal : kalau poin no 2 belum bisa dilaksanakan hari itu, mungkin poin no 1 nya yang bisa kita lakukan, dst. Adjustable lah 🙂

Mengapa?

Ramadhan –> berpuasa –> lapar dahaga –> berempati pada yang miskin –> menambah syukur

Saya ingin menanamkan kepada anak-anak, bahwa momen ramadhan, bukanlah momen pesta makan. Dimana saat buka puasa kita bisa memilih menu makanan seenaknya selayaknya pesta, mau makanan enak-enak, spesial, dll. Orang puasa biasa lapar mata 😀 Tiada yang spesial di bulan ramadhan selain ibadah dan ganjarannya. Urusan menu makanan, tak ada bedanya dengan hari-hari lain di luar ramadhan.

Kita berpuasa itu untuk beribadah, turut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang berkekurangan, sehingga menambah empati kita, sehingga kita lebih bersyukur atas nikmat karuniaNya.

Pernah membaca berita bahwa di bulan ramadhan, bulan dimana umat muslim berpuasa (bisa dikatakan juga mengurangi makan, semula 3x sehari menjadi hanya 2x sehari, no nyamil, dll), namun nilai pembelanjaan/pengeluaran rakyat justru naik, bukannya turun? Tidak hanya meningkatnya jumlah pengeluaran/boros, namun juga meningkatnya jumlah sampah makanan/mubadzir! Astaghfirullah 😦

source : DK Wardhani
source : DK Wardhani

Bukankah dalam islam memubadzirkan sesuatu itu berdosa? Membuang makanan yang tak termakan/tak sempat dimakan/tak kuat lagi perut ini memakannya,  bukankah itu termasuk tindakan mubadzir? Jika hal seperti ini bisa terjadi, terasa gak ada yang salah dengan kita?

 

Ramadhan –> obral pahala dan ampunan –> tingkatkan ibadah –> raih kemenangan 

Banyaknya pahala yang diberikan Allah terhadap amalan-amalan yang kita lakukan, dilipatgandakan lebih banyak dari bulan lainnya, bukankah seharusnya menyemangati kita untuk lebih banyak beribadah?

Kami memang bukan orang sholeh, namun sebagai orangtua kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak, menyampaikan yang terbaik untuk anak-anak, membimbing mereka menjadi hamba yang sholeh, sebenar-benarnya orang sholeh menurut Allah dan rasulNya, bukan menurut seseorang. Sebagai orangtua, tentu kita ingin anak-anak jauh lebih baik daripada kita sendiri bukan?

Di bulan ramadhan ini, bersamai anak-anak dalam beribadah, yang laki-laki diusahakan sebisa mungkin sholat wajibnya berjamaah di masjid. Diusahakan sebisa mungkin sholatnya tepat waktu. Diusahakan sebisa mungkin walah sedikit, amalan sunnah dijalankan.

Dengan berbuka puasa di rumah, dimana waktu antara sholat maghrib dan sholat isya sangat dekat, hanya 1 jam. Itu pun sejak adzan maghrib berkumandang, diisi dengan kegiatan takjil membatalkan puasa, sholat maghrib, makan, istirahat sejenak agar makanan turun untuk kemudian bersiap melaksanakan sholat isya.

Sholat isya, sebisa mungkin dilaksanakan tepat waktu, berjamaah di masjid, disusul kemudian sholat tarawih, jika mereka tidak keburu ngantuk, tadarus.

Jika buka puasa dilakukan di luar rumah, ada beberapa hal yang agak sulit kita kontrol yang mengakibatkan beberapa poin tersebut diatas menjadi bergeser. Kalau hanya sekedar bergeser waktunya karena telat/macet/antri, dll, masih alhamdulillah. Kalau sampai malah hilang/tidak sempat dikerjakan karena anak sudah ngantuk, capek karena perjalanan, dll… sangat sayang sekali… 😐

Bukan saya mengharamkan buka puasa di luar rumah ya. Inget! Marah nih! 😈 Gak boleh mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah. Jangan nyusahin diri sendiri 😕

Haduh…. bahasanya kok jadi serem ya.. “mengharamkan”. Bukan ya! Kadang karena sesuatu hal, terpaksa hal itu dilakukan. Sebagai contoh saat kemarin saya sedang tidak enak badan, kondisi drop, sehingga saya lebih banyak tidur dari biasanya, sehingga tidak sempat menyiapkan buka puasa. Alternatif cepatnya, setelah membatalkan puasa, dengan air minum atau apa, yang penting puasanya dibatalkan dulu, kemudian sholat maghrib, saya akan segera mengajak anak-anak makan di luar.

Setelah makan selesai, anak-anak akan langsung saya ajak pulang, untuk melanjutkan agenda yang berikutnya, sholat isya berjamaah + tarawih. Berusaha sebisa mungkin agenda selanjutnya tidak terganggu dengan “hambatan” tadi.

 

Jadi insyaallah jelas ya, bukan saya anti buka puasa bersama di luar rumah, namun untuk masa penanaman nilai-nilai ini ke anak-anak, saya berusaha meminimalkan hal itu, jika terlihat ada potensi agenda setelah buka puasa –> menjadi berantakan.

 

Mungkin kalau usia anak-anak sudah baligh, sudah paham apa yang sebaiknya dilakukan, tanpa saya harus “istilahnya menarik mereka” agar melaksanakan ibadahnya, insyaallah bisa lebih lapang bagi saya jika mau buka puasa di luar, dll, karena mereka sudah bertanggung jawab atas amal mereka sendiri 🙂

Namun saat ini anak-anak belum baligh, masih “tergantung” saya. Menurut saya inilah saat kita orangtua benar-benar diperlukan menanamkan nilai-nilai kehidupan, termasuk nilai-nilai agama dan ibadahnya.

Pepatah bilang, mengajari anak-anak bagai menulis di batu. Berat, namun hasilnya akan melekat kuat.

Mengajari orang dewasa bagai menulis di atas pasir, mudah, namun cepat hilangnya.

Inilah mengapa saat-saat anak-anak belum baligh perlu kita bersamai, kita tanamkan nilai-nilai yang kita ingin mereka kelak akan memegang teguhnya, sebagai pegangan hidup dimana pun mereka tinggal, disituasi apapun, agar tidak mudah hanyut oleh keadaan. (Baca juga : Buka puasa bareng keluarga nempelnya sepanjang masa)

Pernah dengar ini? “Sejelek-jeleknya orang, kalau saat kecilnya pernah diajari agama, insyaallah lebih mudah baginya untuk kembali.” Karena kenangan masa kecil masuk ke alam bawah sadar, yang membentuk karakter. Bahkan, saat kondisi reflek/tidak sadar, otak akan mengakses langsung memori alam bawah sadar, tanpa perlu melalui logika/akal sehat.

Semua ini hanyalah ikhtiar manusia. Bagaimana masa depan nanti, Allah jualah yang memutuskan. Namun, bukankah tugas kita memang hanya sekedar berusaha, berikhtiar?

Wallahu’alam bish showwab. Semoga ikhtiar kita semua diijabah oleh Allah SWT. Salam ukhuwah 🙂

 

 

Satu respons untuk “Berbuka Puasa Bersama Keluarga Itu Utama

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: