Ranking… Untuk Anak Atau Orangtua Atau Siapa?

Setelah selesai menempuh pendidikan sekolah TK A selama 1 semester, kamis kemarin, 19 Des 2013, saya mengambil raport, catatan hasil pembelajaran mas Hafizh di sekolah, sambil berdiskusi beberapa hal dengan Bu Guru.

Alhamdulillah perkembangan mas cukup bagus dan sesuai dengan perkembangan anak seusianya.

Saya cukup puas dengan pola pelaporan perkembangan pembelajaran mas Hafizh di sekolah, cukup rinci dan pemahaman guru-gurunya atas karakter anak didiknya sepertinya cukup dekat. Mungkin hubungan murid dan guru cukup intens karena dalam 1 kelas hanya dibatasi sebanyak 15 anak yang dibimbing oleh 4 guru 🙂

Selain itu, ada yang namanya buku penghubung, yang selalu diisi oleh guru tentang segala kegiatan mas di sekolah, belajar apa saja, ngapain aja, dan menu makannya juga diinformasikan. Juga jika ada sesuatu, bu guru selalu menuliskannya di kolom catatan.

Buku Penghubung
Buku Penghubung

Saya sangat suka dengan hal ini, karena saya juga bisa memantau kegiatan mas di sekolah yang menjadi bahan diskusi dan obrolan kami di rumah. Sekaligus melatih mas untuk menceritakan sesuatu dengan bahasanya sendiri 🙂

~~~

Alhamdulillah raport anak TK tidak pakai ranking-rankingan.
Saya senang sekali!

Untuk tingkat SD, sepertinya pembagian raportnya hari ini. Beberapa obrolan para ibu mulai terdengar tentang bagaimana mereka “mengkhawatirkan” perolehan ranking anak-anaknya nanti.

Ranking
Ranking

Ranking… mengapa sampai memusingkan hal ini ya?

Berikut kira-kira beberapa penyebabnya :

  • Karena ranking bisa menjadi salah satu sarana bagi orangtua untuk membanggakan diri.
    Ups…. maaf.
    Coba telaah ini : kira-kira kalau ditanya orang, anaknya ranking berapa bu? Yang paling semangat ngejawab kira-kira yang anaknya ranking berapa?
  • Karena ranking bisa membuat anak mudah masuk ke sekolah unggulan yang diinginkan.
    Diinginkan oleh siapa? oleh anak atau orangtua?
  • Karena ranking bisa untuk mempermudah mencari beasiswa (untuk yg ranking 1 biasanya, tapi juga tidak selalu harus ranking untuk mendapatkannya). Dsb.

~~~

Bukan bermaksud untuk sombong, sekedar berbagi pengalaman… Teringat saat saya masih sekolah dulu… sejak SD-SMP, ranking 1 sudah menjadi santapan saya setiap kali pembagian raport. Ketika saya duduk di bangku SMK, dimana siswanya berasal dari seluruh Indonesia, meski bukan ranking 1 lagi, namun alhamdulillah tetap masuk 10 besar.

Lalu apa perbedaan antara ketika saya ranking 1 dan tidak ranking 1?
Tidak ada!
Yang berbeda hanyalah angka yang tertera di belakang kata “ranking” di dalam raport.

Apakah ketika saya tidak lagi ranking 1 itu nilainya turun?
Tidak. Rata-rata raport saya juga masih bagus kok.

Apa beda teman-teman yang ranking dan tidak ranking, setelah dewasa sekarang?
Tidak ada! Kesuksesan yang berhasil mereka raih diantaranya berkat keuletan, kerjakeras dan kolaborasi, bersinergi.

Kesuksesan tidak semata-mata disebabkan oleh ranking!
Banyak teman-teman saya yang dulu tidak ranking namun cukup sukses saat ini.

~~~

Lalu mengapa membesar-besarkan ranking?
Bahkan sampai memarahi anak kalau mereka tidak ranking?

Dulu saya belajar tidak memikirkan saya harus ranking berapa, yang penting saya belajar. Kalau pun dapat ranking, itu karena saya ingin orangtua saya gembira.

Meskipun saya ranking atau tidak, orangtua saya tetap gembira, namun jika saya bisa meraih “the best i can achieve” (ada faktor keinginan dari diri sendiri untuk mencapainya), ada binar lebih di mata mereka. Itu saja.

Maka dari itu, lepaskan beban… lepaskan ikatan dari yang namanya ranking.

Jangan mengkotak-kotakkan dan melabeli anak pinter-bodoh dengan ranking-ranking.

Yang penting anak senang dan nyaman belajar, dia bisa menguasai pelajaran yang dia suka dengan baik, yang tercermin dari nilai-nilai dan sikapnya.

Jangan membatasi diri dengan ranking.
Jangan membuat tembok sendiri dengan ranking.

Dunia tak selebar daun kelor! *ups… kalau ini lebay saya lagi kumat hehehe

~~~

Dulu beberapa teman saya suka ikut les ketika sore hari, mata pelajaran yang diikuti adalah mata pelajaran yang teman saya mendapat nilai jelek/kurang.

Kalau menurut saya, mendapat nilai jelek itu salah satu indikasinya menandakan sang anak tidak suka dengan mata pelajaran itu. Kalau pun mau me-les-kan anak, sebaiknya di mata pelajaran yang justru dia suka, sehingga kemampuannya makin terasah. Bukan pada mata pelajaran yang dia memang tidak minat. Pasti cukup berat sekali bagi si anak.

Beda lagi kasusnya kalau karena keterbatasan/kesibukan orangtuanya sehingga tidak bisa membimbing anaknya belajar..

Tapi kembali lagi, itu hanyalah pendapat saya sendiri, yang selama ini belum pernah merasakan ikut les.

~~~

Coba kita lihat diri kita sekarang ini, saat ini, saat sudah dewasa seperti ini.
Apakah ranking saat sekolah itu benar-benar berpengaruh pada hidup kita?

Nilai, apalagi ranking, bukan satu-satunya penentu kesuksesan anak di masa depan. Semua yang dialami saat di sekolah akan banyak yang tidak digunakan kelak.

Berapa banyak apa yang kita pelajari selama bersekolah +/- 12 tahun (SD 6 thn, SMP 3 thn, SMA 3 thn) yang terpakai sampai sekarang?

Jadi pendidikan apa yang akan digunakan seorang anak hingga dia dewasa dan dapat diwariskan? Karakter!
Didiklah karakternya dan tanamkan kesuksesan sejak awal di ladang karakternya.

Biarkanlah anak-anak tumbuh dengan baik dan biarkan kreativitasnya tak terbelenggu oleh ranking, atau pun pengkotak-kotakkan lainnya.
Biarkan dia menikmati pembelajarannya, dengan kita, orangtua sebagai coach & supporter utamanya 🙂

5 respons untuk ‘Ranking… Untuk Anak Atau Orangtua Atau Siapa?

Add yours

  1. Setuju mbak, memang terjadi kesalahan pola pikir yg ditanamkan pada dunia pendidikan kita. Makanya saya pribadi tidak terlalu mentarget anak untuk rengking atau masuk sekolah favorit. Saya hanya membantu belajar mereka yg kurang dia mengerti di sekolah dan juga sangat mensuport minat mereka. Tidak ada rumus kalau rengking, sekolah favorit kemudian masa depan mereka cemerlang. Saya hanya mentarget mereka untuk menjadi anak yg sholeh/hah, rajin mengaji dan ibadah itu saja. Perkara nanti mereka mau jadi ustad, guru, karyawan, pengusaha biarlah mereka yg menentukan sendiri. Saya sebagai orang tua hanya mensuport dan membimbing serta mendoakan yg terbaik untuk mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: