Spesialisasi (Deep) vs Generalisasi (Wide)

Tak peduli jenis & nama pekerjaan Anda, setiap pekerjaan pasti memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya.

Kompetensi adalah kemampuan, keunggulan yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Kumpulan beberapa kompetensi yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan tersebut biasanya disebut dengan kompetensi pekerjaan (job competencies), sedangkan kompetensi yang dimiliki oleh seseorang biasanya disebut dengan kompetensi individu (personal competencies).

Contoh kompetensi
Contoh kompetensi dan pendefinisiannya (pic source : disini)

Masing-masing kompetensi tersebut akan memiliki nilai atau score atau level sebagai indikator penguasaan kompetensi tersebut.

Untuk jabatan yang berbeda, suatu kompetensi yang sama score-nya pun bisa saja berbeda, karena kebutuhan masing-masing jabatan untuk suatu kompetensi juga berbeda-beda.Β Scoring yang dipergunakan sangat tergantung dari jenis dan kondisi perusahaan. Bisa menggunakan scoring 0-4, atau juga yang lain.

Level score tersebut menggambarkan secara jelas tingkatan penguasaan kompetensi tersebut, sehingga bisa diketahui dengan mudah perbedaan antara level yang satu dengan yang lainnya.

Contoh leveling untuk kompetensi Β : Employee Relations

Contoh leveling / scoring kompetensi
Contoh leveling / scoring suatu kompetensi (pic source : disini)

Dalam melakukan assessment kompetensi karyawan oleh Assessor, leveling / scoring ini harus sudah jelas dipahami, disepakati, agar terjadi keseragaman persepsi penilaian.

Level competency
Level competency (pic source : disini)

Untuk menentukan apakah seseorang itu layak menjabat suatu posisi pekerjaan, maka cara termudah adalah dengan melakukan competencies match-up, yaitu meng-compare antara “kompetensi yang dibutuhkan suatu pekerjaan” terhadap “kompetensi yang dimiliki seseorang” (job competencies vs person competencies), yang hasilnya disebut profile match-up / summaries.

Setelah dilakukan profile match-up, akan diketahui summary gap yang muncul, dan sorting result dari summary gap tersebut.

Biasanya total summary gap terendah akan ditampilkan di posisi paling atas, menandakan karyawan tersebut yang paling cocok dengan posisi tersebut. Begitu pula sebaliknya.

<gambar profile match-up>

Namun bisa saja terjadi, seseorang over-competence, atau kompetensi yang dimilikinya melebihi kompetensi yang diperlukan untuk jabatannya.

Jika hal ini terjadi, tentu perlu dilakukan peninjauan ulang atas penempatan karyawan yang bersangkutan, atau bisa juga dilakukan assigning more responsibility kepada ybs, atau bisa juga dilakukan tandem untuk posisi yang lebih tinggi dengan tujuan promosi kedepannya. Semua tergantung kebijakan perusahaan.

Akan sangat disayangkan sekali jika memiliki karyawan yang bagus dan cakap, namun ditempatkan di posisi yang terlalu rendah dari kecakapannya.

~~~

Kembali lagi kepada spesialisasi dan generalisasi.

Spesialisasi adalah penguasaan sesuatu bidang secara mendalam, kebawah, semakin ke dalam semakin mumpuni.

Generalisasi adalah penguasaan banyak bidang sekaligus, namun tidak mendalam, hanya hal-hal mendasar.

~~~

Untuk bisa membedakan 2 karakter yang sangat berbeda ini bisa dengan mudah diketahui dari jenis pekerjaannya dan tingkat penghasilannya. Lho? mengapa dari tingkat penghasilannya?

Bukankah semakin ahli seseorang akan bidang tertentu, gaji yang diterimanya akan semakin mahal? Sedangkan bagi yang biasa-biasa saja, gajinya pun akan sewajarnya saja.

Hal seperti ini sangat mudah dilihat pada pekerjaan yang mengutamakan skill dalam pekerjaannya, seperti ahli negosiasi, ahli keuangan, ahli komputer, dsb.

Seiring dengan kemajuan jaman dan kompetisi yang ada, orang-orang yang memiliki spesialisasi akan lebih tinggi daya tawarnya, dibandingkan dengan orang-orang yang menguasai segala sesuatu secara general.

Maka jadilah orang-orang yang spesial, bukan yang general.

Orang-orang yang spesial ini memang jumlahnya sangat sedikit, dan orang-orang yang general sangat banyak jumlahnya.

Hal inilah salah satu penyebab mengapa orang yang spesial harganya tinggi, karena nyarinya juga susah πŸ˜€

Dalam suatu obrolan, pernah tercetus pertanyaan seperti ini : jika sejak kecil suka dan sering berlatih komputer tentu ketika besar dia bisa menjadi ahli komputer, atau ahli di suatu bidang terkait komputer, entah dari sisi design grafisnya, programmingnya, atau hardwarenya, dst.

Agar muncul anak2 muda di usia belasan tahun yang menguasai kehandalanΒ seperti itu…. bagaimana pendidikan kita bisa menciptakannya?

Bagaimana menurut Anda?

15 respons untuk β€˜Spesialisasi (Deep) vs Generalisasi (Wide)’

Add yours

    1. sekarang aja udah begitu… bagaimana kalo mbak dari kecil sudah diasah bakatnya secara kontinyu dan fokus… harganya… gak kuat bayar aku! πŸ˜€

      semoga anak-anak kita bisa kita bantu asah bakatnya ya mbak, aamiiin πŸ™‚

  1. Terlalu terspesialisasi juga bahaya, karena seseorang bisa terjebak di situ, sedangkan kita gak tau, siapa tahu spesialisasi tersebut pada saat anak ‘selesai’ nanti sudah tidak dibutuhkan. πŸ™‚ Cuma komen aja heheh. Mungkin baiknya anak belajar untuk fleksibel dan mau terus belajar. Ketika ada ketertarikan, minat bakat, punya kemampuan untuk meningkatkan diri di situ.

    1. biasanya kalau kita fokus pada suatu spesialisasi, kita akan mengikuti perkembangannya mbak, dan inshaa Allah terus mengikuti kemajuan teknologinya seperti apa.. jadi tidak stuck di hal tsb saja πŸ™‚

      seperti seseorang yg suka bikin kue… mungkin awalnya suka bikin pukis… tapi lama lama berkembang menjadi suka bikin red velvet… trus berkembang lagi suka bikin puding art.. dll

      karena inshaa Allah passion yang dipegang akan mendorong seseorang untuk terus mencari tahu sesuatu yg disukainya ^_^

      betul… segala sesuatu dikembalikan lagi pada bakat & minatnya. spesialisasi yg diambil sebaiknya memang harus selaras dengan hal tersebut agar benar-benar menikmati proses pembelajarannya ^_^

  2. Menurut saya penting memang membawa anak-anak ke situasi dan lingkungan yang mendukung kepada skill tertentu, meski pada akhirnya anak juga akan menemukan bakat dan minat yang sesuai dengan pilihan atau kecocokannya.

  3. Bener sekali ya…seorg yg memiliki specialisasi kemampuan tertentu akn lbh mahal daya jualnya. Saya merasakan itu wkt msh bekerja. Dimn karywan yg biasa2 sj ya gaji & jabatan gt2 sj pdhl ms kerjanya sdh lama…sdg yg memeliki kemampuan gajinya melebihi krywan yg biasa2 sj pdhl mrk msh baru….

    1. dari yg sering saya dengar, spesialisasi bisa dimulai dengan kontinyu melakukan sesuatu mbak… asah pengalaman πŸ™‚
      pengalaman dan penglamaan berbeda ya, pengalaman ada pengembangan pemahaman di sana… sedangkan penglamaan… pelaksanaan sesuatu secara terus-menerus tanpa disertai pengembangan pemahaman πŸ™‚

      mbak susindra nih dah ahli di bidang crafting flanel & pita πŸ™‚ keren hasilnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: