Kisah di dalam KRL
Seperti biasa, saya berangkat ke kantor dengan menggunakan KRL AC sebagai sarana transportasi. Biaya transportasi yang cukup ekonomis, cepat dan bebas macet, namun tentu saja tidak bebas delay (dalam kondisi tertentu).
Banyaknya peminat KRL AC ini sangat nampak dengan membludaknya jumlah penumpang, sampai-sampai kadang tak perlu berpegangan ke tiang penyangga di dalam KRL maupun ring pegangan di atas tempat duduk, karena sudah “tertahan” oleh sesaknya penumpang. Begitu gerbong kereta miring kekanan sedikit… doyonglah para penumpang secara kompak ke arah kanan, begitu juga untuk gerbong kereta yang miring ke kiri, ataupun yang sedikit terhempas karena rel yang kurang rata pondasinya. Dari stasiun tempat saya naik KRL, 99,99% tidak akan mendapatkan tempat duduk karena saking penuhnya.
Saya saat itu berada di tengah, dekat pintu masuk gerbong. Diantara berjubel penumpang yang ada, nampak sepasang lengan renta yang sedang bergelayutan di ring pegangan. Sepasang tangan renta yang terkesan rapuh dan lelah, berjarak beberapa langkah didepanku. Kutelusuri siapakah sosok pemilik lengan itu. Dan benar saja, pemilik lengan renta itu adalah seorang bapak-bapak sepuh yang kalau saya perkirakan usianya sekitar 70 or 80-an? Rambutnya yang putih, sinar matanya yang nampak lelah, namun sepasang tangannya seperti berusaha mencengkram kuat ring pegangan di atas deretan tempat duduk.
Kulihat orang-orang yang duduk disederet bangku di sekitar bapak sepuh tadi. Terdapat bapak-bapak, ibu-ibu usia pertengahan yaitu sekitar 35-40an, dan beberapa pemuda serta pemudi. Beberapa diantara mereka terlihat asyik tidur, dan yang lain sedang mendengarkan MP3 player, dan sisanya membaca koran.
Sementara gerbong kereta mulai terguncang-guncang… jes..jes..jes..jes..jes..
Sepertinya orang-orang yang ada asyik tenggelam dengan keasyikannya masing-masing…
Tak adakah diantara orang-orang yang duduk itu, yang masih muda-muda itu, yang masih tegap-tegap itu, yang nampak gagah dan cantik itu berkenan memberikan tempat duduknya untuk bapak sepuh ini?
Saya jadi ingat orang tua saya, kalau bapak sepuh itu adalah ayah saya, tentu saya sangat sedih sekali dan tidak ingin ayah saya berada di kondisi seperti itu…
Teringat ketika beberapa bulan yang lalu saat saya masih hamil, hampir tak ada yang memberikan tempat duduknya ke saya, meskipun dengan jelas-jelas tertempel di bagian ujung gerbong kereta bahwa deretan 4 kursi itu diprioritaskan untuk wanita hamil, orang tua, dan orang cacat.
Hanya beberapa dari mereka (hitungan jari) yang selama 9 bulan saya mengandung, dengan rela menawarkan tempat duduknya pada saya.
Selebihnya, karena sayalah yang meminta hak saya sebagai wanita hamil untuk duduk di kursi yan telah diprioritaskan sesuai kondisi saya.
Sudah tidak pedulikah orang-orang Jakarta aka Jabotabek?
Kemana sikap santun bangsa kita yang dulu kita banggakan?
Kalau kita yang sedang dalam posisi mendapat tempat duduk di KRL, dan kita jumpai ada orang tua, atau ibu-ibu yang membawa bayi, wanita hamil, yuk kita berikan tempat duduk kita untuk mereka.. inshaAlloh akan jadi kebarokahan bagi diri kita sendiri. Apa salahnya berdiri sekitar +/- 30 menitan untuk menukarnya dengan kebaikan yang berlipat ganda ridho dan barokah-Nya
Mari saling berintrospeksi diri, untuk kebaikan kita bersama, amiin.
pic source : http://foto.detik.com/images/content/2009/01/22/464/krl1.jpg
About this entry
You’re currently reading “Kisah di dalam KRL,” an entry on Zakia Wijaya's Blog
- Telah Diterbitkan:
- 2 Juni 2009 / 2:29 am
- Kategori:
- lingkungan




& Komentar
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]